Toleransi dalam Beragama

Saturday, May 20, 2017 0 Comments A+ a-



 Jika kau anggap agamamu karena keturunan, bagiku agamaku adalah pilihanku. Terlahir dari orang tua muslim adalah suatu anugrah yang sangat ku syukuri namun itu tetap sekedar batu loncatan. 

Ketika beranjak dewasa kita akan dihadapkan banyak pilihan. Akan ada fase mencari jati diri yang akhirnya membawaku pada pertanyaan fundamental, benarkah agama yang ku jalani ini?  Benarkah Tuhan yang ku yakini selama ini? dan berbagai pertanyaan yang membuat kepalaku ribut. Dalam banyak proses, akhirnya saya menemukan jawaban 'saya yakin, ini jalan yang tepat'. Ini pilihanku. Let's respect each other. 

Setiap orang berpikir dan setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing. Tapi ketika agama hanya sekedar warisan orang tua,  menerima begitu saja, kita tak pernah tau esensi beragama itu sendiri. 

Hal-hal prinsipil dalam beragama tak mungkin menyatu karena itu yang menjadikannya berbeda. "Bagiku agamaku, bagimu agamamu". Tak perlu berdebat kusir karena tidak akan ada titik temu. Kuncinya yaa toleransi dan saling menghargai.

Pada dasarnya mayoritas orang Indonesia paham dan sudah saling menghargai, lihatlah disekitar kita, baik-baik saja bukan?
 Hanya saja, ada secuil orang yang mem-blow up dan ribut hingga menjadi viral di media sosial. Diamnya orang waras ini disangkanya orang Indonesia kurang toleran.